RSS
Love ALLAH. Love Muhammad.Love My Family. Love my best Friends.Loveable...Orchid Girl.feminin girl.sociable.cheerful.kindly.Love babies... ^_^

Untuk Sahabat, kangen sahabat - sahabatku …. :* :) 

Jika preman saja tak sudi dikejar-kejar, apalagi laki-laki sholeh, pinter, baik hati, setia, calon ayah teladan se dunia.
Menginginkan kelak mendapatkan suami sholeh ? maka jadilah sholehah yang punya harga diri, berkualitas dunia akhirat, tahu bagaimana menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya.

*Bersembunyilah dengan aman, maka cinta sejati itu akan mencarimu dengan iman.

Bunda Tatty Elmir.

- Eta pisan! :)

(Source: frinholic)

By : Iwan Fals

Suatu hari
Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi

Burung camar terbang
Bermain diderunya air
Suara alam ini 
Hangatkan jiwa kita

Sementara 
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu 
Mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati 
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram 
Bersamamu

For u love, My Best Friends :*

Teruntuk my special & My best friends :*

Dear Devy Prasasti…

Jika kamu mengagumi seseorang, maka aku juga mengagumimu…

Sebagai sahabat yang tak pernah lelah mendengar keluh kesahku, gundah dan cerita bahagiaku..Hampir delapan tahun aku mengenalmu, dari yang awalnya km cuek dengan muka jutekmu, ternyata kamu menyimpan hati yang peduli sesama..

Sebagai seorang sahabat, aku tau kamu menginginkan jodoh yang terbaik, bahkan aku juga tau siapa orang yang kamu kagumi, mata, wajah serta perkataanmu tak bisa membohongiku…

Doa yang aku panjatkan semoga kamu berjodoh dengan seseorang yang kamu kagumi itu, Aku sangat bahagia jika melihat sahabatku bahagia..

Jika kamu gak mau aku bantu dengan action, aku akan bantu dengan doa…

Kamu sahabat terbaik buatku..kamu bearti , dan kamu juga udah jadi keluarga bagiku…

Walaupun sekarang adalaha masa - masa dimana kita harus sibuk dengan urusan masing - masing tapi suatu saat nanti kita akan banyak waktu untuk libur bersama, berkenalan denga suamimu, suamiku, dengan anakmu dan juga anakku….:D

Semoga cita - cita kita tercapai sahabat.. ^_^

CC : prasastii.tumblr.com

Pernah (bahkan selalu) aku memperhatikan fenomena disekelilingku. Terutama dilingkungan teman-temanku. Mengapa lingkungan teman-teman diberi kata ‘terutama’? Ini karena teman-temanku lebih heterogen dalam menjalani perannya sehari-hari sebagai mahasiswa, sebagai seorang anak, karyawan, aktifis kampus, pebisnis, dan sebagainya.

Ada perasaan heran saat aku mengamati teman-temanku. Di waktu yang sama, ada teman yang begitu produktifnya, banyak aktifitas yang ia kerjakan dalam waktu yang relatif singkat. Sepertinya, tak ada sedetikpun waktu yang terlewat dengan sia-sia. Dari mulai membaca buku, menghadiri majelis ilmu, sekolah/ kuliah, olahraga, memberi motivasi dalam sebuah forum, berorganisasi, membuat suatu karya, sampai memanaje perusahaan kecil yang baru dirintis bersama teman-temannya. Namun diwaktu yang sama, yaitu 24 jam setiap hari, 7 hari dalam seminggu, ada pula teman yang kebalikan dari teman pertama tadi. Bingung mencari kerja tapi tak kunjung didapatkan, menghabiskan modal waktunya didepan komputer untuk bermain game atau anteng didepan televisi menonton program yang tak layak ditonton. Saat kuliahpun diikuti dengan setengah hati dan tidak dinikmati. Saat dosen menjelaskan materi, pikirannya justru melayang ke kantin dengan berbagai menu hidangan.

Aku heran, mengapa diwaktu yang bersamaan terjadi sebuah ‘kejomplangan’ yang nyata benar bedanya? Padahal mereka sama-sama menjalani peran utama sebagai mahasiswa. Mengapa di satu sisi ada temanku (sesama mahasiswa) yang bisa mengatur waktu sedemikian rupa untuk melakukan banyak aktifitas, sedangkan di sisi lain ada pula temanku (sesama mahasiswa juga) yang tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan aktifitas yang bermanfaat? Sebenarnya apa yang terjadi dengan objek-objek pengamatanku ini?

Sempat dulu aku tak mau ambil pusing dengan keherananku ini. Aku menganggap, “Hidup kan pilihan, jadi suka-suka mereka aja deh mau berbuat apa..”.

Namun lambat laun aku penasaran untuk kembali mengulik mengapa hal itu bisa terjadi. Terlebih saat aku (secara tak sengaja) menemukan tulisan mengenai Hukum Newton 1.

jika resultan gaya yang bekerja pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang semula diam akan tetap diam dan benda yang semula bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap (artinya percepatannya nol)

-Hukum Newton 1-

Bunyi hukum Newton diatas kurang lebih mendeskripsikan mengenai perbandingan sifat benda. Bila sebuah benda diam, ia akan cenderung diam. Sebaliknya, bila sebuah benda bergerak, ia cenderung akan terus bergerak.

Aku mencoba untuk mentafakuri isi Hukum Newton 1. Teori tersebut seolah menjelaskan bahwa saat kita berdiam diri, maka akan sulit rasanya memulai sebuah aktifitas yang bermanfaat. Seperti mengerjakan tugas kuliah, membereskan kamar, atau sekedar menyusun target mingguan. Seakan ada belenggu yang begitu kuat menahan kita untuk beraktifitas, atau mungkin hadir lintasan pikiran, “Ah.. nanti aja lah, kan masih ada waktu”. Akan menjadi lain bila kita senantiasa bergerak, maka kita akan terus bergerak, menghasilkan hidup yang bermanfaat.

Sehubungan dengan keherananku diatas, Hukum Newton 1 ini ampuh memberiku jawaban. Hukum Newton 1 dapat merefleksikan fenomena yang terjadi di lingkungan teman-temanku ini. Disini aku menangkap tafsiran yang mengatakan bahwa sebuah kebiasaan akan mengkristal menjadi karakter diri yang utuh (dan cenderung sulit diubah). Bila kita terbiasa mengulur-ulur waktu, kita akan semakin malas melakukan aktifitas yang bermanfaat, dan khawatir kemalasan tersebut akan berujung pada kemalasan permanen (diam). Sedangkan bila kita terbiasa melakukan aktifitas bermanfaat, maka kita akan semakin terbiasa melakukan hal-hal positif dan selanjutnya kebiasaan tersebut akan mengkristal menjadi karakter yang senantiasa produktif.

Orang-orang pemalas cenderung menyerah dalam keadaan lelah. Maka ia menjadi diam.

Lain halnya dengan orang-orang yang senantiasa bergerak. Ia akan terus bergerak, berjalan, bahkan berlari sampai lelah telah lelah mengejarnya.

Ada orang yang terus bekerja, namun tidak ada sedikitpun yang ia dapatkan, ia berkata “Lelah”. Disaat yang sama, ada orang yang terus berkarya, banyak yang telah ia berikan untuk Allah, ia berkata “Lillah”.

REBLOG : prasastii.tumblr.com :) 

“Hujan tak mungkin disebut hujan jika hanya turun setetes. Begitu juga berjuang, bukan berjuang namanya jika gagal sekali lalu menyerah pada keputus-asaan.”

— (via shafirameidyana)

(Source: tirtasuganda, via diananauli)

(Source: akumuhaimin)